brandoutlet.co.id – Pandemi COVID-19 sudah berjalan kurang lebih selama 3 bulan. Selama 3 bulan itu pula masyarakat bisa menyaksikan kehidupan yang dibatasi. Orang jadi tidak bebas bergerak karena PSBB, dan situasi semacam ini pun memunculkan dampak ekonomi yang tidak kalah serius.

Ambil contoh di sektor bisnis kecil dan menengah, UMKM, misalnya. Ditengah pandemi COVID-19, rasanya tidak mengherankan bila kita membaca sebuah kabar bahwa bisnis UMKM milik si A tutup karena berkurangnya permintaan barang di tengah pandemi.

Berita semacam itu jadi berita sehari-hari yang tidak hanya memilukan, namun juga membuat waswas. Kalau Anda memiliki bisnis UMKM juga, pasti Anda juga bertanya-tanya tentang bagaimana nasib bisnis Anda di masa depan.

Dampak COVID-19 Terhadap Ekonomi Indonesia

Ekonomi Indonesia jelas mengalami perlambatan di tengah pandemi. Di kuartal pertama 2020 saja, pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami perlambatan dan hanya tumbuh sebesar 2,9% persen. Jauh dari target pertumbuhan kuartal pertama sebesar 4,5-4,6 persen.

dampak covid-19 terhadap ekonomi

Walau begitu, masih ada harapan bagi ekonomi Indonesia untuk tumbuh. Harapannya antara lain terlihat pada nilai tukar rupiah yang menguat pada April 2020. Ini berarti tanda-tanda bahwa kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia terus membaik walaupun di tengah COVID-19. Selain itu angka inflasi juga tetap rendah.

Lantas apakah itu berarti tidak ada dampak buruk COVID-19 bagi Indonesia? Tentu tetap ada. Bagi UMKM, COVID-19 berarti faktor utama yang membuat transaksi jual beli mengalami penurunan.

Ini dikarenakan masyarakat memilih untuk menahan pengeluarannya, dan mengeluarkan uang hanya untuk membeli kebutuhan pokok yang terpenting. Selain itu, fenomena PHK yang terjadi dimana-mana juga membuat banyak orang melakukan penghematan.

Baca Juga : Macam-Macam Strategi UKM Bertahan di Tengah Pandemi

Apa Kabar UMKM yang Terdampak COVID-19?

COVID-19 tentu memberikan dampak besar ke banyak UMKM yang beroperasi di seluruh Indonesia. Dampak yang diberikan berbeda, tergantung seberapa besar kapasitas bisnis yang dijalankan sebuah UMKM.

Akan tetapi umumnya dampak COVID-19 terhadap UMKM bisa dipetakan menjadi beberapa poin:

  • Terhentinya operasi bisnis akibat tiadanya permintaan.
  • Distribusi barang terhambat.
  • Tutupnya pusat bisnis karena masih tergantung pada pola penjualan konvensional, atau offline.
  • Produk UMKM tidak laku karena konsumen melakukan penghematan pengeluaran.

Dampak COVID-19 sebetulnya juga relatif berbeda antara satu UMKM dengan yang lainnya. Tidak semua usaha kecil lantas langsung kolaps begitu pandemi dimulai. Karena ada saja yang tetap bertahan meski harus melakukan diversifikasi bisnis/usaha.

ukm terdampak covid-19

Diversifikasi bisnis yang dimaksud di sini adalah respon yang diberikan UMM ketika bisnis memburuk karena pandemi. Sempet ada kabar beberapa UKM beralih bisnis menyediakan masker dan alat pendukung diri untuk menopang kinerja petugas medis.

Diversifikasi bisnis yang dipilih sempat memperpanjang nafas kehidupan UMKM, meski toh sifatnya hanya sementara.

Tapi mungkin yang spektakuler adalah keputusan 100,000 UMKM di Indonesia untuk beralih ke sistem penjualan online. Adalah Gojek yang memiliki inisiatif untuk membantu UMKM mentransformasikan bisnisnya ke ranah online.

Mungkin sistem penjualan online saat ini dipandang sebagai cara paling efektif untuk beradaptasi dengan kondisi pandemi dan new normal yang sebentar lagi diberlakukan di daerah Indonesia yang dipandang sudah masuk ke dalam zona hijau.

Skema Kebijakan UMKM yang Disiapkan Pemerintah Indonesia

Pemerintah Indonesia bukannya tinggal diam. Sejumlah kebijakan untuk menjaga keberlangsungan hidup UMKM telah diterbitkan dalam rangka menghadapi pandemi COVID-19. Kebijakan yang dimaksud terdiri dari:

  1. Kementerian Koperasi dan UKM menghimbau diberlakukannya social distancing agar warung yang dikelola pengusaha UMKM bisa berjalan dengan semestinya, namun tetap dioperasikan dalam koridor protokol kesehatan.
  2. Pemerintah mengajukan stimulus sebesar Rp2 triliun yang akan diberikan untuk meningkatkan daya beli produk koperasi dan UKM. Angka tersebut sudah disetujui sejauh ini.
  3. Menerbitkan program subsidi dan restrukturisasi suku bunga kredit UKM, terutama dalam bentuk kredit usaha mikro. Di saat bersamaan, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koperasi dan UKM memberlakukan restrukturisasi kredit khusus bagi koperasi. Yang terakhir ini dilakukan melalui LPDB KUMKM.
  4. Memberikan Bantuan Langsung Tunai bagi para pekerja sektor informal yang terkena dampak COVID-19.
  5. Relaksasi pajak untuk pelaku UMKM, berupa pajak penghasilan impor, Pph 25, Pph 21, serta restitusi pertambahan nilai.

skema kebijakan pemerintah menghadapi pandemi

Secara umum, pelaku UMKM yang tergolong ke dalam kategori orang miskin yang rentan terkena dampak COVID-19 dipastikan masuk ke dalam golongan masyarakat yang menerima sejumlah program bantuan sosial.

Program bantuan sosial yang dimaksud diantaranya adalah pemberian paket sembako, bantuan sosial tunai, BLT (bantuan langsung tunai) desa, kartu prakerja, pengurangan tarif listrik, dan Program Keluarga Harapan.

Pemerintah Indonesia sebelumnya juga terus mengingatkan kepala daerah di seluruh Indonesia untuk terus melakukan realokasi anggaran serta merancang program ekonomi dengan pemberian stimulus yang memicu pertumbuhan sektor UMKM di masa depan.