brandoutlet.co.id – Bertahan di tengah pandemi memang kelihatannya sulit, apalagi bagi kebanyakan bisnis atau UKM mengandalkan pemasukan dari toko fisik.

Tentu kita semua tahu aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar membuat banyak bisnis dan UKM terpaksa menutup tokonya untuk batas waktu yang belum ditentukan.

Dan meski sudah ada banyak daerah yang mulai mengakhiri PSBB, masih ada banyak UKM yang masih berusaha bertahan hidup di tengah pandemi.

Ekonomi di Tengah Pandemi

Dampak ekonomi paling kentara di era pandemi ini adalah daya beli masyarakat yang menurun. Indikatornya bisa dilihat antara lain dari pertumbuhan angka pertumbuhan konsumsi yang turun semasa pandemi.

strategi ukm bertahan di masa pandemi

Pada kuartal pertama 2020, pertumbuhan konsumsi hanya di angka 2,84%. Artinya angkanya turun ketimbang tahun lalu pada periode yang sama, yang mencapai 5,02%. Dalam kondisi itu, tidak heran bila ada banyak sekali penyesuaian yang mesti dilakukan oleh para pebisnis UKM, supaya mereka bisa bertahan hidup di tengah pandemi.

Kira-kira seperti apa ekonomi di tengah pandemi? 

  • Konsumsi masyarakat turun, sementara pertumbuhan ekonomi melambat.
  • Bisnis yang tergantung pada toko fisik dan penjualan di tempat terkena imbas penutupan sementara akibat PSBB.
  • Sektor investasi mengalami penurunan akibat penundaan pengerjaan proyek strategis nasional.

Walau begitu, pemerintah disarankan untuk terus memperhatikan sektor manufaktur dan pertanian dalam negeri. Saran ini pernah disampaikan Ketua Policy Center Iluni UI Jibriel Avessina, sebagaimana dicatat oleh Merdeka.com.

Kedua sektor tersebut perlu diperhatikan karena memang paling banyak menyerap tenaga kerja. Selain itu dari sisi konsumsi, masyarakat masih tergantung pada produk hasil manufaktur dan pertanian.

Baca Juga : Mengenal Teten Masduki, Menteri Koperasi dan UKM

Dampak Pandemi bagi UKM

Dalam sebuah survei yang dilakukan International Labour Organization kepada 571 perusahaan pada April 2020, terungkap bahwa 70% pelaku bisnis Usaha Mikro Kecil dan Menengah berhenti melakukan produksi karena pandemi COVID-19.

Dari jumlah tersebut, 226 pelaku UMKM menghentikan produksi karena faktor permintaan barang yang berkurang. Dan itu baru satu masalah.

Dalam survei yang sama, 90% UMKM mengaku bahwa arus kas mereka sangat terdampak. Sedangkan 52% UMKM juga mengaku pendapatan mereka hilang separuhnya karena pandemi.

Strategi Bertahan

Walau tantangannya berat, namun bukan berarti tidak ada jalan untuk bertahan. Di dalam situasi pandemi, prioritas yang perlu dilakukan UMKM sebaiknya fokus pada berjalannya cash flow, dan bukan pada perolehan profit.

Di titik ini ada beberapa strategi bertahan yang bisa dijalankan:

  • Mempersiapkan Bisnis Supaya Bisa Berkembang di Masa Depan

Pandemi COVID-19 memunculkan fenomena dimana masyarakat lebih memilih menahan diri untuk membeli. Dan karena sebagian besar anggota masyarakat berada dalam mode seperti itu, pebisnis juga mesti menerapkan langkah-langkah pengembangan diri.

mempersiapkan bisnis agar tetap berkembang

Misalnya dengan mengembangkan keahlian pemasaran digital, atau mengembangkan situs ecommerce milik sendiri. Ini penting dilakukan sebagai antisipasi.

Kelak bila situasi sudah normal, UMKM yang terdampak pandemi bisa menjalankan bisnis lebih cepat dibanding sebelumnya, sekaligus bisa mengembangkan strategi pemasaran yang tidak tergantung pada, misalnya, penjualan offline

  • Memanfaatkan Potensi Teknologi Secara Maksimal

Ini bisa dilakukan dengan, misalnya, dengan membuka toko di situs marketplace besar. Kemudian mengubah cara kerja banyak hal yang tadinya dilakukan secara manual.

Misalnya: katakanlah Anda mengelola UKM yang melakukan pencatatan keuangan dengan cara manual. Nah, sekarang Anda bisa mempertimbangkan penggunaan software akuntansi online yang lebih praktis.

Ada banyak hal dari aspek bisnis yang sekarang bisa dikerjakan dengan bantuan teknologi. Seperti misalnya mengalihkan sistem pengantaran barang dengan memanfaatkan jasa online delivery.

Singkat kata, lakukan eksplorasi teknologi dengan cara mencari tahu jenis teknologi terbaru macam apa yang bisa dipakai untuk meningkatkan efisiensi bisnis. Dengan begitu pelaku UMKM bisa memperoleh masukan untuk dipertimbangkan, dan yang nantinya bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan bisnis.

  • Perbaiki Layanan dan Kualitas Produk

Ketika produksi terhenti akibat terhentinya permintaan, mungkin ini saat yang tepat untuk melakukan evaluasi terhadap banyak hal dari aspek bisnis yang belum sempat dievaluasi di saat normal.

Misalnya: Anda bisa mengajak karyawan berdiskusi untuk mengembangkan kualitas produk, sehingga lebih siap dipasarkan ke segmen yang lebih luas. Cari kekurangan produk Anda, perbaiki kelemahannya, kemudian mulailah dijual dengan cara-cara baru.

perbaiki layanan kualitas produksi

Cara-cara baru dalam penjualan produk bisa macam-macam. Taruhlah tadinya Anda tidak pernah memanfaatkan Instagram untuk berjualan mie ayam. Sekarang Anda bisa memperluas layanan dengan cara mempromosikan mie ayam Anda lewat Instagram.

Contoh diatas hanya mau mengatakan: manfaatkanlah teknologi sebaik mungkin supaya bisnis Anda bisa berkembang di masa depan.

UMKM Harus Tetap Hidup di Tengah Pandemi

Karena UMKM jadi satu sektor yang menopang geliat perekonomian Indonesia, mau tidak mau sektor ini harus tetap bisa hidup di tengah pandemi. Dan jangan lupa, UMKM juga mesti memberikan perhatian pada aspek higienitas di tengah pandemi.

Sederhananya, Anda jangan sampai lupa untuk mengkomunikasikan ke masyarakat, bahwa bisnis UMKM Anda tetap memperhatikan protokol kesehatan dengan menyarankan konsumen menggunakan masker dan hand sanitizer, serta terus mengutamakan kebersihan lingkungan sekitar.